BPN ISMKI WEBLOG

Blog Jurnalis Kedokteran

BPN ISMKI WEBLOG header image 1

PoSTeR

December 9th, 2008 · 2 Comments

Poster Lomba Jurnalistik BPN ISMKI 2008/2009

 

Wahai kawan

Masihkah kita ada?

Jika ya

Ayo berkompetisi dalam dunia yang kita gekuti ini

 

Ikutilah Lomba Juranalistik

Badan Pers Nasional

Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia

BPN ISMKI

2008/2009

→ 2 CommentsTags: Uncategorized

Uji Kompetensi Dokter Indonesia (UKDI)

September 6th, 2008 · 4 Comments


SAAT PROSES TAK LAGI  JADI YANG UTAMA

Seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan masalah kesehatan, UKDI dianggap merupakan langkah yang sangat baik dalam mengembangkan pengetahuan seorang dokter. Seorang dokter dituntut untuk terus me-update ilmu pengetahuannya jika ingin memperbaharui SIP (Surat Izin Praktek) dengan mengikuti UKDI setiap 5 tahun. Hal ini dianggap mampu menjamin kualitas seorang dokter dalam pengabdiannya kepada masyarakat. Benarkah demikian?  Hal yang menjadi pertanyaan  adalah peserta yang diuji tidak terkecuali dokter yang baru lulus, yang secara konseptual baru saja memperoleh gelar dokter dari institusinya, yang secara sederhana bisa dibilang fresh dalam hal pengetahuan kedokteran. Bukankah begitu?

Berdasarkan UU SISDIKNAS pasal 16 ayat 1 yang menyatakan peran dari institusi pendidikan tinggi, bahwa pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian. Yang dengan mudah dapat disimpulkan bahwa ketika institusi pendidikan meluluskan seseorang, berarti institusi tersebut telah mengakui orang tersebut memiliki kemampuan akademik dan mampu secara profesional mengamalkan ilmunya di masyarakat, dan mengabdi dimasyarakat. Adanya uji kompetensi dokter seolah membuktikan adanya keraguan terhadap kemampuan institusi dalam memberikan kompetensi kepada para peserta didiknya.

 

Menurut Prof. dr. Irawan, Ph.D sebagai ketua AIPKI (Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, uji kompetensi dokter diselenggarakan untuk menilai kompetensi seorang dokter apakah layak atau tidak. Tujuannya untuk menstandarisasi kompetensi setiap dokter lulusan berbagai fakultas kedokteran di seluruh Indonesia sehingga dapat meningkatkan kualitas dokter-dokter serta penerapan long life learning.

Mari menilik kebelakang (asal mula UKDI)

Sebelum UKDI dijalankan ada sebuah sistem tes yang disebut Bench Marking dimana tes tersebut dilaksanakan dalam rangka penilaian keberhasilan suatu institusi kedokteran dan peningkatan mutu Fakultas Kedokteran. Proyek benchmarking yang merupakan proyek DIKTI yang pelaksanaannya diamanahkan terhadap 4 fakultas kedokteran yaitu FKUI, FK Unpad, FK UGM, FK Undip. Karena FK Unpad dianggap “sedikit” tahu mengenai persoalan nasional, maka FK Unpad ditunjuk sebagai menjadi coordinator. Setelah itu mulai ada keterlibatan dari FK-FK lain yaitu FK USU, FK Atmajaya, FK Unhas, FK Unair untuk menjadi tim dalam pembuatan Bench Marking tersebut. Aspek benchmarking merupakan upaya pengembangan kapasitas dalam ujian dan merupakan penelitian selama kurang lebih 3 tahun untuk melihat pengetahuan dokter. Tes benchmarking merupakan suatu pilihan yang dapat diikuti ataupun tidak oleh suatu institusi kedokteran, intinya bukan merupakan suatu keharusan. Dari hasil benchmarking tersebut, ditemukan adanya ketidakmerataan hasil yang diperoleh. Ada dokter-dokter yang dapat mengerjakan ujian dengan sangat baik, ada yang sedang-sedang saja, bahkan ada yang berada di bawah standard. Dengan hasil tersebut, kedepannya dianggap perlu ada ujian nasional untuk menjadi jaminan mutu dan akuntabilitas publik terhadap seorang dokter. Dimana jika seorang dokter telah lulus melewati ujian kompetensi berskala nasional tersebut, dokter tersebut dianggap terjamin untuk melakukan praktek kedokteran di seluruh daerah di Indonesia. Soal-soal yang dimasukkan dalam ujian tersebut juga harus soal-soal yang berskala nasional.

Pendidikan dokter saat ini

Pada konsep kurikulum berbasis kompetensi, penilaian kompetensi seseorang dilihat dari tiga aspek, yakni kognitif, psikomotorik, dan afekif. Sedangkan uji kompetensi dokter ini hanya menilai aspek kognitif saja, lalu bagaimana dengan aspek lainnya? Dr. Abdul Kadir, Sp. THT mengungkapkan  aspek yang dinilai dalam UKDI hanya pengetahuan dokter, sedangkan masalah praktek dinilai saat ini masih sangat sulit untuk dilaksanakan.

Apa kata peserta?

            Sudah kodratnya lah dalam pelaksanaan sesuatu ada pihak yang pro dan kontra, termasuk tentang kebijakan masalah UKDI ini.

Menanggapi pelaksanaan ujian kompetensi dokter sebagai poin kelayakan seorang dokter berkompetensi ataupun tidak, dr. Salina sebagai salah satu dokter yang baru mengikuti ujian kompetensi dokter, mengatakan “Kita tidak bisa mengukur kompetensi kita selama belajar di fakultas kedokteran dengan satu kali ujian, karena ada banyak faktor yang dapat membuat kita tidak lulus ujian saat itu, dan tidak lulus uji kompetensi dokter bukan berarti kita tidak memiliki kompeten kan?”

All about UKDI

Peserta Uji Kompetensi:

Dokter baru yaitu seluruh lulusan fakultas kedokteran setelah tanggal 29 April 2007.

Syarat-syarat peserta ujian:

  • Memiliki ijazah dokter/tanda lulus dari fakultas kedokteran atau Program Studi Pendidikan Dokter (PSPD)
  • Sudah menjalani angkat sumpah dokter yang dibuktikan dengan sertifikat angkat sumpah
  • Mendaftarkan diri ke panitia pelaksana program sertifikasi dokter
  • Membayar biaya ujian sesuai ketentuan yang berlaku

 

Peserta ujian ulang:

  • Adalah peserta yang gagal di ujian pertama dan mendaftar kembali untuk mengikuti ujian ulang pertama. Peserta harus menyertakan nomor ujian yang telah dimiliki ketika mendaftar ulang
  • Mengulang dengan modul adalah peserta yang gagal pada dua kali ujian dan mendaftar kembali untuk mengikuti ujian modul (diberi soal untuk dijawab di rumah)

 

Prosedur Pendaftaran Ujian:

  1. Peserta dapat mendaftar melalui:
    1. Fakultas kedokteran atau Program Studi Pendidikan Dokter di seluruh Indonesia
    2. Sekretariat KBUKDI:  Jl. Samratulangi No. 29 Jakarta 10350, Telp/fax: 021-3908435

Email: komitebersama@yahoo.com

2.      Membayar biaya sertifikasi dan registrasi dengan rincian:

a.       Tiga ratus ribu rupiah untuk biaya sertifikasi per kali ujian yang disetorkan ke rekening KBUKDI di BNI cabang UI Depok dengan no. rek. 0120595477 a. n. Sugito Wonodirekso, Dr. Dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk biaya pengurusan STR yang disetorkan ke rekening Konsil Kedokteran Indonesia di BNI cabang Melawai Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, no. rek. 93.20.5556 a. n. Konsil Kedokteran Indonesia

b.      Peserta mengambil borang pendaftaran di FK/PSPD terdekat atau sekretariat KBUKDI, dengan menunjukkan bukti pembayaran biaya pendaftaran ujian dan pengurusan STR

c.       Formulir yang telah diisi dan kelengkapan dokumen lainnya dimasukan ke dalam amplop coklat ukuran A4 dan diserahkan ke panitia pendaftaran di FK/PSPD terdekat atau sekretariat KBUKDI

 


Alur SIP

Lulus dari FK

 


Uji Kompetensi

 


Sertifikat Kompetensi

 


Mengajukan STR ke KKI

 


Mendapatkan SIP

 

Siapa saja komite bersama yang berada di balik UKDI tersebut?

Yang mungkin menjadi pertanyaan dalam benak kita saat ini adalah siapa saja orang dan instansi yang berada dibalik UKDI, yang nantinya mengurusi mulai dari penyiapan soal ujian, penentuan standard an sebagainya?

Undang-undang Praktek Kedokteran menyatakan bahwa setiap dokter harus teregistrasi dan menunjukan surat kompetensi yang dikeluarkan oleh kolegium yang bersangkutan. Untuk itu, kolegium yang bersangkutan tersebut minta bantuan ke AIPKI karena dirasa standard kompetensi yang dibutuhkan tersebut merupakan wujud penilaian pendidikan. Akhirnya mereka juga mengajak PDKI (Persatuan Dokter Keluarga Indonesia) untuk merealisasikan hal tersebut, karena dokter keluarga sendiri masih dianggap sebagai dokter umum.  3 stake holder tersebut (Kolegium Dokter Indonesia, AIPKI, dan PDKI) menjadi komite bersama dalam perwujudan UKDI.

Demikianlah teman, apa yang kami sajikan saat ini semoga dapat menjadi pemacu agar kedepan kita semakin sadar, sebagai calon dokter, tak kan mudah tantangan yang nantinya akan kita hadapi di depan, ini mungkin hanyalah sebagian kecil dari tantangan besar yang siap menanti kita.

BERJUANGLAH SAHABATKU!!!

 

Hasil peliputan bersama

UNHAS, UNPAD, UNSOED, UI,UB

(Anggota Utama Badan Pers Nasional ISMKI)

→ 4 CommentsTags: BPN ISMKI · Dunia Jurnalistik · medical info

Munas BPN? 2009?

August 11th, 2008 · 2 Comments

Hot News!!!   Hot News!!!

 

 

UKM Jurnalistik  BROCA BEM KM FK UNAND akan menggelar 

BIG  EVENT :

 

 

MUNAS  MUKERNAS  IV 

BPN  ISMKI 2009

di Ranah Minang

 

 


So, prepare yourself  !!!

Don’t Mizz it !

 

Datang yo dunsanak !!!

 

 

 

 

Ttd:

Koor PubDok Munas Mukernas IV

Resa Qurrata Aini

UKM Jurnalistik BROCA

BEM KM FK UNAND

→ 2 CommentsTags: Uncategorized

Aku Seorang Mahasiswa

June 28th, 2008 · 3 Comments

 

Aku seorang mahasiswa. Sosok idealis ditengah masyarakat, sosok yang bersahaja yang dipandang sebagai orang berpendidikan yang jelas-jelas tahu aturan dan adat. Yang sudah pasti tau bagaimana bersikap dan bertindak. Yang tak diragukan lagi paham betul bahwa kekerasan bukan apa-apa, bahwa kekerasan tak membuahkan kebaikan.

Aku seorang mahasiswa. Dengan gagah mengusung ideologi untuk bangsa. Ya!!! Untuk bangsa. Tak untuk yang lain. Aku yakin, bahkan sangat yakin dalam lubuk terdalam hati kita, bangsa ini dan masyarakatnya .Bangsa ini dan harga dirinya adalah yang utama dan terutama.

Aku seorang mahasiswa. Dalam pandangan masyarakat aku adalah sang pembawa aspirasi, aku tahu itu. Tak jarang aku diperlakukan istimewa, saat aku mengatakan pada mereka aku mahasiswa. Ya!!! Aku mahasiswa. Begitu agungnya posisi ku dimasyarakat. Sadarkah engkau akan hal ini kawan aku yakin kau sadar.

Aku seorang mahasiswa. Entahlah, ada pergolakan batin yang terjadi padaku, apa yang harus kulakukan dalam situasi genting ini, BBM naik, bagaimana nasib rakyat. Aku mahasiswa, aku merasa bertanggung jawab akan hal ini, dan aku harus melakukan sesuatu. BERBUATLAH!!! Pekik teman-temanku, para mahasiswa.

Aku seorang mahasiswa . hari ini aku berdiri didepan jalanan, mengibarkan sang merah putih, menutup jalanan agar tak bias dilalui orang. Kenapa? Aku akan berorasi. Demi mereka juga. Demi bangsaku, demi masyarakat luas.

Aku mahasiswa . tak cukup rasanya sebatas mengibarkan sang merah putih diujung sana temanku telah siap dengan ban bekas, dan disudut lain teman ku yang lain pun telah siap dengan api yang berkobar. Ya!!! Aku mahasiswa. Tak afdhal rasanya bila aku tak membakar ban bekas ini. Aku bakar saja, biar ramai. Aku bakar ban bekas ini disamping sang merah putih yang berkibar rendah. Hati kecilku menjerit tak takutkah engkau jika sang merah putih itu terbakar. Angin begitu kencang berhembus. Apa kau tak takut? Suara hatiku yang lain membenarkan apa yang kulakukan. Tenanglah wahai mahasiswa sang merah putih bangga atas apa yang kau lakukan!!!

TIDAK KAWAN!!!

Sang merah putihmu, kebanggaanmu, MENANGIS menyaksikan ini. Namun dia tak menjerit. Dia hanya merasakan panas. Namun masih bias ditahannya. Karena satu keyakinan kawan. Kita mahasiswa. Sosok akademisi yang keluar dari gedung megah bernama perguruan tinggi membawa bekal ilmu dan akal.

Aku mahasiswa. Ada mobil plat merah yang melintas, teman-temanku sesama mahasiswa berteriak. BAKAR!!! BAKAR!!! Aku terbakar, semangatku membuncah, aku lari menghampiri mobil itu, memaksa penumpangnya untuk turun dan API SEMANGAT itu semakin membakarku. Aku menghancurkan mobil itu. Tak cukup aku membantingnya hingga terguling, ada luapan kepuasan terasa, dan sama halnya sepertiku temanku begitu semangat mengangkat kedua tangannya dan meneriakkan YEAH!!! Seakan dia telah memenangkan sesuatu yang amat berharga. Tunggu dulu, suara itu kembali terngiang, mengajukan pertanyaan. Kenapa kau membakar mobil itu? Karena itu mobil yang dikendarai sang penguasa yang tetap duduk kokoh disinggasananya, aku rasa dengan membakar mobil ini, dia akan sadar dan akan serta merta keluar mengabulkan permohonan kami karena takut. Itukan mobilku, mobilmu, mobil rakyat, aku kembali dibantah. Itu mobil yang dibeli dari hasil uang kita, uang rakyat. Dengan membakarnya kau telah membakar salah satu asset Negara kita. Sadarkah kau kawan? Kau berarti telah membumi hanguskan uang rakyat. Kawan Ingat kau berjuang hari ini untuk rakyat.

Aku seorang mahasiswa! Kulihat dari kejauhan aparat datang akan menyerbu kami, kulihat seorang temanku dengan sikap mengejek menunjukkan bokongnya pada sang aparat. Entah apa maksudnya. Tapi yang kutahu ini pastilah dirasakan sebagai penghinaan,.

Tapi tunggu, apa aku tak salah lihat? Temanku yang juga seorang mahasiswa melakukan hal seperti itu?

Disudut jalan itu. Ada suara jerit panjang terdengar, hysteria tangis membuncah. Ada apa? Kulihat sang merah putihku, kebanggaanku, tak kuasa lagi menahan semuanya, dia menjerit, Kuat , HENTIKAN KEGILAAN INI.

Aku seorang rakyat. Aku bangga pada mahasiswa, aku bangga jika melihat anakku masuk diperguruan tinggi dan menyandang gelar mahasiswa. Tapi apa yang terjadi sekarang? Aku tak merasa perlu memasukkan anakku diperguruan tinggi, bukan ini yang kuharap, kulihat dari televisi dan beberapa kali kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, betapa brutalnya aksi mereka, layaknya orang yang tak berpendidikan bahkan parahnya mereka pun dengan mudah dapat menyandang gelar tambahan manusiia tak beradab. Liar!!! Itu yang kutangkap. Apa ini yang mereka dapatkan di bangunan megah itu? Apa kekerasan adalah hasil belajar mereka bertahun-tahun? Aku benar-benar tak habis pikir. Tak dapatkah ilmu yang mereka dapatkan dibangku kuliah mereka gunakan untuk menyelesaikan masalah dengan bukan hanya menuntut tapi memberi solusi pemecahan terbaik ? tentunya dengan ilmu.

Aku seorang mahasiswa. Aku malu menunjukkan wajahku padamu rakyat. Kini aku mungkin tak lagi jadi kebanggaanmu. Kini aku mungkin tak pantas lagi kau harapkan.

TIDAK!!! Wahai mahasiswa!!! Wahai anak-anak bangsa!!! Engkaulah tumpuan harapan kami!!!

Kau masih memilki waktu untuk merubah ini semua. Kami yakin akan kemampuanmu mahasiswa!!! Kaulah generasi muda bangsa ini yang akan meneruskan cita-cita luhur nenek moyang kita.

KAMI YAKIN KAU MAMPU MENUNJUKKAN YANG TERBAIK

KAMI MENUNGGUMU MAHASISWA.

YA!!!! Akupun yakin

Karena KITA ADALAH MAHASISWA (fira_alamri)

→ 3 CommentsTags: BPN ISMKI

“Adanya Konspirasi Diantara Mereka”

June 19th, 2008 · No Comments

Merupakan Salah satu kutipan pembicaraan yang terjadi dalam acara Bedah Buku Nasional dan Peluncuran Program Buku Teks UNS 2008, yang bertempat di Aula Fakultas Kedokteran UNS, pada hari senin 24 Maret 2008.

Bedah Buku Nasional kali ini ber judul ‘Saatnya Dunia Berubah : Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung’, merupakan hasil karya dari Menteri Kesehatan RI Dr. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K). Dalam acara tersebut di hadiri pula Rektor UNS (?), Dekan Fakultas Kedokteran beserta jajarannya, dan Para pejabat di lingkungan Dinas Kesehatan Kota Solo.

Sebagai pembicara dalam acara tersebut antara lain Ibu Menteri Kesehatan RI, DR. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K), sebagai penulis, Prof. Dr. Adi Sulistyono, SH, MH, merupakan pakar hukum UNS, serta Prof. Dr. dr. Guntur Hermawan, Sp.PD.

Dalam kesibukannya sebagai menteri, ibu menkes (red) patut diberi gelar kehormatan dari bangsa Indonesia. Pada era dimana banyak dokter lebih asyik bekerja sama dengan perusahaan farmasi untuk mengumpulkan ‘rezeki’, ibu menkes masih menyempatkan menulis buku yang mampu mencari perhatiaan kalangan intelektual dunia, membangkitkan semangat nasionalisme para pembaca, dan mampu membuat WHO dan Amerika Serikat tidak berkutik karena ‘kejahatanya’ terekspose secara luas.

Disela-sela acara tersebut sempat terjadi gurauan antara ibu menkes dengan Prof. Gun (red), yang mana ternyata mereka merupakan teman satu SMA, yaitu alumni dari SMAN 3 Solo. Mereka sempat menceritakan kenangan mereka di waktu SMA yang mebuat peserta bedah buku tertawa.

Dalam acara tersebut ibu menkes menceritakan bagaimana kegiatan beliau sebagai menkes RI, serta beberapa kebijakanya mengenai perbaikan kesehatan masyarakat Indonesia.

 Melalui bukunya, beliau berhasil menguak konspirasi AS dan WHO dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, avian influenza (H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu di jual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indoesia.

Perlawanan beliau dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di Indonesia. Beliau lebih memilih senjata yang terbukti lebih efektif dalam membongkar kebohongan itu melalui bukunya. Ibu menkes mulai curiga saat indonesia juga terkena endemik flu burung tahun 2005 silam, namun aneh, obat tamiflu yang haarusnya ada tersebut justru diborong negara-negara kaya yang tidak terkena kasus flu burung. Di tengah upaya pencarian obat flu burung, dengan alasan penetuan diagnosis, WHO melalui WHO Collaborating centre (WHO CC) di Hongkong memerintahkan beliau untuk menyerahkan sampel spesimen. Mulanya, perintah itu diikuti beliau. Namun, ia juga meminta laboratorium Litbangkes melakukan penelitian. Hasilnya ternyata sama. Tapi mengapa WHO CC meminta sample dikirin ke Hongkong?

Ibu menkes merasa ada suatu yang aneh, ia teringat mengenai korban flu burung di vietnam. Sampel tersebut di ambil dan juga dikirimkan ke WHO CC uyang berada di Hongkong untuk dilakukan risk assessment, diagnosis, dan kemudian dibuat bibit virus. Dari bibit virus tersebut dibutatlah vaksin. Dari sinilah ia (menkes-red) menemukan fakta bahwa pembuat vaksinitu perusahaan-perusahaan negara maju, negara kaya, yang tak terkena flu burung.

Mereka mengambilnya dari Vietnam, negara korban, kemudian menjualnya ke seluruh dunia tanpa izin, tanpa kompensasi. Beliau sangat marah, karena kedaulatan, harga diri, hak, dan martabat negara telah dipermainkan atas dalih Global influenza Surveilance Network (GISN) WHO. Badan ini sangat berkuasa dan telah menjalani praktik selama 50 tahun. Ia teah memerintahkan lebih dari 110 negara untuk mengirim spesimen virus flu ke GISN tanpa bisa menolak. Virus itu menjadi milik mereka, dan mereka berhak memproses menjadi vaksin. Di saat keraguan atas WHO, ia kembali menemukan fakta bahwa para ilmuan tidak dapat mengakses data sequencing DNA H5NI yang disimpan WHO CC.

Uniknya data itu disimpan di Los Alamos National Laboratory di New mexici, AS. Disini, dari 15 group peneliti, hanya empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui. Los Alamos ternyata di bawah kementrian energi AS. Di laboratorium inilah dulu dirancang bom atom hiroshima. “Lalu untuk apa data itu. Vaksin atau senjata kimia?”, ujar beliau dengan nada tegas. Ia (menkes-red) tak membiarkan situasi ini. Ia meminta WHO untuk membuka data itu (DNA Virus H5N1-red), tidak boleh dikuasai oleh pihak tertentu. Dan berhasil pada tanggal 8 Agustus 2006. ilmuan dunia yang selama ini gagal mendobrak ketertutupan Los Alamos, memujinya.

Tak berhenti disitu, beliau terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 vrus asal indonesia yang konon telah ditempatkan di Bio Health Security, lembaga penelitian senjata biologis Pentagon. Akhirnya Indonesia menolak untuk mengirim lagi spesimen virus yang diminta WHO. Selama ini mekanisme itu mengikuti GISN, yang imperialistik dan membahayakan dunia. Meskipun dikecam oleh WHO, karena dianggap menghambat penelitian, namun pada akhirnya dalam sidang pertemuan kesehatan sedunia di Jenewa, Mei 2007, International Government Meetng (IGM) WHO akhirnya menyetujui segala  tuntutan beliau, yaitu sharing virus disetujui dan GISN dihapuskan.

→ No CommentsTags: LPM FK Indonesia

Peran Mahasiswa

May 23rd, 2008 · 1 Comment

 :razz: Salam Pers Mahasiswa!…..

Sahabat, dalam sekejap kita bisa mengatakan begitu pentingnya dunia jurnalistik nagi seorang mahasiswa. Terlebih  lagi bagi mahasiswa kedokteran. Jurnalistik adalah salah satu sumber informasi dan referensi yang sangat dibutuhkan dalam menimba ilmu. Dari situ kita bisa dapat apa yang kita cari. Misalnya saja informasi terbaru tentang Kebangkitan Nasional. walaupun di luar tataran akademik mahasiswa kedokteran, tapi itu adalah pergerakan mahasiswa kedokteran yang seharusnya menjadi salah satu inforasi bagi kita tentang bagaimana sejarahnya bisa terjado saat ini Harkitnas, siapa yang mendalanginya. itu adalah informasi yang setidaknya memberikan sedikit wawasan bagi kita untuk mengetahui tentang suatu pergerakan mahasiswa yang harusnya menjadi cambuk dan pendulang semangat untuk mendorong kita lebih maju.

Tapi sungguh disayangkan, saat ini, pergerakan itu tak diikuti. Mungkin jangankan berpikir untuk mengukir suatu sejarah seperti yang dibuat oleh dokter-dokter Indonesia seabad yang lalu pada tahun 1908, tapi untuk sekedar menulis dan memberikan informasi kepada sesama teman sejawat (mahasiswa kedokteran) saja sangat kurang minatnya. Wah, pertanyaannya,”Kemanakah mereka?.”

→ 1 CommentTags: BPN ISMKI

DEKLARASI HASANUDDIN

May 22nd, 2008 · No Comments

(DEKLARASI MAHASISWA KEDOKTERAN INDONESIA)

Kami, mahasiswa kedokteran Indonesia,

intelektual muda bangsa yang cinta tanah air dan persatuan dengan berlandaskan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjanji:
1. Menjunjung tinggi budi pekerti luhur dan martabat profesi kedokteran
2. Mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang kami mliki, demi kesehatan bangsa
3. Menjadi teladan dan garda terdepan bagi pembangunan Indonesia

Makassar, 20 Mei 2008
Atas nama mahasiswa kedokteran Indonesia

→ No CommentsTags: Uncategorized

Bisakah kita Go Public?

April 29th, 2008 · 1 Comment

Aslm, BPNers. Kapan jaketnya jadi nih?  :smile:

Lagi coba sedikit nulis nih, tentang produk LPM kita.

Saya yakin pertemuan Munas ke-3 kemarin membawa semangat-semangat baru dalam diri para pesertanya untuk lebih memaksimalkan diri lagi dalam berkarya, baik di LPM masing2 maupun BPN. Setidaknya, klo kemarin ada tukar menukar majalah ato produk masing2, kita bisa belajar sejauh mana sih sebenarnya “kemampuan” jurnalis2 FK to act as real journalists.

Gak bisa dipungkiri, saya yang gak ikut munas, tapi tau produk dari beberapa LPM FK, bisa menyimpulkan bahwa kita memang perlu banyak belajar! Kebanyakan emang produk kita, ng-internal banget. Ulasan “dalam negerinya” lebih banyak dari “luar negeri”. Namun hal ini tidak bisa disalahkan, karena modal utama supaya dibaca khalayak ramai, sebuah produk harus memiliki magnitude, yaitu kedekatan dengan pembacanya. Tapi yang jadi pertanyaan, bisakah kita lebih berkembang jika hanya mengandalkan ulasan dalam negeri saja? Tidakkah kita ingin Go Public? Tidakkah kita ingin menyapa masyarakat luas? Tidakkah kita ingin independen dalam arti sebenarnya??

BPN ISMKI merupakan sebuah solusi tersendiri dalam menjawab pertanyaan tersebut. Jika kita mampu menjadikan institusi ini sebagaimana mestinya, maka mendapatkan keuntungan lebih dalam peliputan suatu masalah, dan itu akan menjadi kelebihan kita dibanding media lain. Informasi akan lebih bervariasi, karena datangnya dari segala penjuru tanah air. Wawasan pemabaca akan lebih luas, dan mereka pun akan berterimakasih. Namun sudahkah kita manfaatkan BPN ini dengan baik?

Sebuah pertanyaan,,

→ 1 CommentTags: Dunia Jurnalistik

Essay Competition

March 16th, 2008 · No Comments

Young voices in research for healthThe Global Forum for Health Research and The Lancet are holding their third joint essay competition for the under-30s on the theme:

Climate change and health: research challenges for the health of vulnerable populations

Rules and guidelines

  • Authors must have been born on or after 1 January 1978.
  • Each author may submit one essay only.
  • Essays may be submitted in English or French and should be 1500 words maximum.
  • Essays must be based on the author’s own ideas and not be derived from another source.
  • Essays must not have been previously published.
  • Entries are individual (i.e., the work of a single author).
  • They should include original, even provocative ideas and not be technical or academic texts: tables, charts and figures are probably not necessary; references should be limited.
  • Authors are free to be idealistic, passionate, to take established practices to task, albeit in a constructive fashion.
  • Within the context of research for health, the theme allows authors to include any aspect that interests them particularly – for example, extreme weather, natural disasters, fuels and energy, transport, water management, vectors, food production, demographics, urban planning, security.

Deadlines

  • The deadline for receipt of entries is 30 April 2008.
  • A shortlist will be announced by the end of June. Shortlisted authors will be asked to provide a high quality photograph and to confirm original authorship and date of birth.
  • The winners will be notified by the beginning of August 2008. The judges’ decision will be final.

Prizes

  • A selection of shortlisted essays will be published in an anthology as well as on the Global Forum and Lancet websites.
  • Winners will be invited to take part (with all expenses paid) in the Global Ministerial Forum on Research for Health, which will take place in Bamako, Mali, from 17 to 19 November 2008.

Staff members of the Global Forum or of the Lancet or their immediate families are ineligible to enter the competition, as are authors of shortlisted essays published in 2006 and 2007.

For any questions, please contact susan.jupp@globalforumhealth.org or f.mclellan@elsevier.com

Updated: 03 March 08

For more information:
http://www.globalforumhealth.org

→ No CommentsTags: Dunia Jurnalistik

Munas is Calling…

January 18th, 2008 · 2 Comments

Here We Are

Have u register? Click the image 4 publication…

→ 2 CommentsTags: BPN ISMKI