

Wahai kawan
Masihkah kita ada?
Jika ya
Ayo berkompetisi dalam dunia yang kita gekuti ini
Ikutilah Lomba Juranalistik
Badan Pers Nasional
Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia
BPN ISMKI
2008/2009


Wahai kawan
Masihkah kita ada?
Jika ya
Ayo berkompetisi dalam dunia yang kita gekuti ini
Ikutilah Lomba Juranalistik
Badan Pers Nasional
Ikatan Senat Mahasiswa Kedokteran Indonesia
BPN ISMKI
2008/2009
→ 2 CommentsTags: Uncategorized
SAAT PROSES TAK LAGI JADI YANG UTAMA
Seiring dengan meningkatnya pengetahuan dan masalah kesehatan, UKDI dianggap merupakan langkah yang sangat baik dalam mengembangkan pengetahuan seorang dokter. Seorang dokter dituntut untuk terus me-update ilmu pengetahuannya jika ingin memperbaharui SIP (Surat Izin Praktek) dengan mengikuti UKDI setiap 5 tahun. Hal ini dianggap mampu menjamin kualitas seorang dokter dalam pengabdiannya kepada masyarakat. Benarkah demikian? Hal yang menjadi pertanyaan adalah peserta yang diuji tidak terkecuali dokter yang baru lulus, yang secara konseptual baru saja memperoleh gelar dokter dari institusinya, yang secara sederhana bisa dibilang fresh dalam hal pengetahuan kedokteran. Bukankah begitu?
Berdasarkan UU SISDIKNAS pasal 16 ayat 1 yang menyatakan peran dari institusi pendidikan tinggi, bahwa pendidikan tinggi merupakan kelanjutan pendidikan yang diselenggarakan untuk menyiapkan peserta didik menjadi anggota masyarakat yang memiliki kemampuan akademik dan/atau profesional yang dapat menerapkan, mengembangkan dan/atau menciptakan ilmu pengetahuan, teknologi, dan/atau kesenian. Yang dengan mudah dapat disimpulkan bahwa ketika institusi pendidikan meluluskan seseorang, berarti institusi tersebut telah mengakui orang tersebut memiliki kemampuan akademik dan mampu secara profesional mengamalkan ilmunya di masyarakat, dan mengabdi dimasyarakat. Adanya uji kompetensi dokter seolah membuktikan adanya keraguan terhadap kemampuan institusi dalam memberikan kompetensi kepada para peserta didiknya.
Menurut Prof. dr. Irawan, Ph.D sebagai ketua AIPKI (Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, uji kompetensi dokter diselenggarakan untuk menilai kompetensi seorang dokter apakah layak atau tidak. Tujuannya untuk menstandarisasi kompetensi setiap dokter lulusan berbagai fakultas kedokteran di seluruh Indonesia sehingga dapat meningkatkan kualitas dokter-dokter serta penerapan long life learning.
Mari menilik kebelakang (asal mula UKDI)
Sebelum UKDI dijalankan ada sebuah sistem tes yang disebut Bench Marking dimana tes tersebut dilaksanakan dalam rangka penilaian keberhasilan suatu institusi kedokteran dan peningkatan mutu Fakultas Kedokteran. Proyek benchmarking yang merupakan proyek DIKTI yang pelaksanaannya diamanahkan terhadap 4 fakultas kedokteran yaitu FKUI, FK Unpad, FK UGM, FK Undip. Karena FK Unpad dianggap “sedikit” tahu mengenai persoalan nasional, maka FK Unpad ditunjuk sebagai menjadi coordinator. Setelah itu mulai ada keterlibatan dari FK-FK lain yaitu FK USU, FK Atmajaya, FK Unhas, FK Unair untuk menjadi tim dalam pembuatan Bench Marking tersebut. Aspek benchmarking merupakan upaya pengembangan kapasitas dalam ujian dan merupakan penelitian selama kurang lebih 3 tahun untuk melihat pengetahuan dokter. Tes benchmarking merupakan suatu pilihan yang dapat diikuti ataupun tidak oleh suatu institusi kedokteran, intinya bukan merupakan suatu keharusan. Dari hasil benchmarking tersebut, ditemukan adanya ketidakmerataan hasil yang diperoleh. Ada dokter-dokter yang dapat mengerjakan ujian dengan sangat baik, ada yang sedang-sedang saja, bahkan ada yang berada di bawah standard. Dengan hasil tersebut, kedepannya dianggap perlu ada ujian nasional untuk menjadi jaminan mutu dan akuntabilitas publik terhadap seorang dokter. Dimana jika seorang dokter telah lulus melewati ujian kompetensi berskala nasional tersebut, dokter tersebut dianggap terjamin untuk melakukan praktek kedokteran di seluruh daerah di Indonesia. Soal-soal yang dimasukkan dalam ujian tersebut juga harus soal-soal yang berskala nasional.
Pendidikan dokter saat ini
Pada konsep kurikulum berbasis kompetensi, penilaian kompetensi seseorang dilihat dari tiga aspek, yakni kognitif, psikomotorik, dan afekif. Sedangkan uji kompetensi dokter ini hanya menilai aspek kognitif saja, lalu bagaimana dengan aspek lainnya? Dr. Abdul Kadir, Sp. THT mengungkapkan aspek yang dinilai dalam UKDI hanya pengetahuan dokter, sedangkan masalah praktek dinilai saat ini masih sangat sulit untuk dilaksanakan.
Apa kata peserta?
Sudah kodratnya lah dalam pelaksanaan sesuatu ada pihak yang pro dan kontra, termasuk tentang kebijakan masalah UKDI ini.
Menanggapi pelaksanaan ujian kompetensi dokter sebagai poin kelayakan seorang dokter berkompetensi ataupun tidak, dr. Salina sebagai salah satu dokter yang baru mengikuti ujian kompetensi dokter, mengatakan “Kita tidak bisa mengukur kompetensi kita selama belajar di fakultas kedokteran dengan satu kali ujian, karena ada banyak faktor yang dapat membuat kita tidak lulus ujian saat itu, dan tidak lulus uji kompetensi dokter bukan berarti kita tidak memiliki kompeten kan?”
All about UKDI
Peserta Uji Kompetensi:
Dokter baru yaitu seluruh lulusan fakultas kedokteran setelah tanggal 29 April 2007.
Syarat-syarat peserta ujian:
Peserta ujian ulang:
Prosedur Pendaftaran Ujian:
Email: komitebersama@yahoo.com
2. Membayar biaya sertifikasi dan registrasi dengan rincian:
a. Tiga ratus ribu rupiah untuk biaya sertifikasi per kali ujian yang disetorkan ke rekening KBUKDI di BNI cabang UI Depok dengan no. rek. 0120595477 a. n. Sugito Wonodirekso, Dr. Dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk biaya pengurusan STR yang disetorkan ke rekening Konsil Kedokteran Indonesia di BNI cabang Melawai Raya, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, no. rek. 93.20.5556 a. n. Konsil Kedokteran Indonesia
b. Peserta mengambil borang pendaftaran di FK/PSPD terdekat atau sekretariat KBUKDI, dengan menunjukkan bukti pembayaran biaya pendaftaran ujian dan pengurusan STR
c. Formulir yang telah diisi dan kelengkapan dokumen lainnya dimasukan ke dalam amplop coklat ukuran A4 dan diserahkan ke panitia pendaftaran di FK/PSPD terdekat atau sekretariat KBUKDI
![]()
Alur SIP
![]()
![]()
![]()
Lulus dari FK
Uji Kompetensi
![]()
![]()
![]()
Sertifikat Kompetensi
![]()
![]()
![]()
Mengajukan STR ke KKI
Mendapatkan SIP
Siapa saja komite bersama yang berada di balik UKDI tersebut?
Yang mungkin menjadi pertanyaan dalam benak kita saat ini adalah siapa saja orang dan instansi yang berada dibalik UKDI, yang nantinya mengurusi mulai dari penyiapan soal ujian, penentuan standard an sebagainya?
Undang-undang Praktek Kedokteran menyatakan bahwa setiap dokter harus teregistrasi dan menunjukan surat kompetensi yang dikeluarkan oleh kolegium yang bersangkutan. Untuk itu, kolegium yang bersangkutan tersebut minta bantuan ke AIPKI karena dirasa standard kompetensi yang dibutuhkan tersebut merupakan wujud penilaian pendidikan. Akhirnya mereka juga mengajak PDKI (Persatuan Dokter Keluarga Indonesia) untuk merealisasikan hal tersebut, karena dokter keluarga sendiri masih dianggap sebagai dokter umum. 3 stake holder tersebut (Kolegium Dokter Indonesia, AIPKI, dan PDKI) menjadi komite bersama dalam perwujudan UKDI.
Demikianlah teman, apa yang kami sajikan saat ini semoga dapat menjadi pemacu agar kedepan kita semakin sadar, sebagai calon dokter, tak kan mudah tantangan yang nantinya akan kita hadapi di depan, ini mungkin hanyalah sebagian kecil dari tantangan besar yang siap menanti kita.
BERJUANGLAH SAHABATKU!!!
Hasil peliputan bersama
UNHAS, UNPAD, UNSOED, UI,UB
(Anggota Utama Badan Pers Nasional ISMKI)
→ 4 CommentsTags: BPN ISMKI · Dunia Jurnalistik · medical info
Hot News!!! Hot News!!!
UKM Jurnalistik BROCA BEM KM FK UNAND akan menggelar
BIG EVENT :
“MUNAS MUKERNAS IV
BPN ISMKI 2009“
di Ranah Minang
So, prepare yourself !!!
Don’t Mizz it !
Datang yo dunsanak !!!
Ttd:
Koor PubDok Munas Mukernas IV
Resa Qurrata Aini
UKM Jurnalistik BROCA
BEM KM FK UNAND
→ 2 CommentsTags: Uncategorized
Aku seorang mahasiswa. Sosok idealis ditengah masyarakat, sosok yang bersahaja yang dipandang sebagai orang berpendidikan yang jelas-jelas tahu aturan dan adat. Yang sudah pasti tau bagaimana bersikap dan bertindak. Yang tak diragukan lagi paham betul bahwa kekerasan bukan apa-apa, bahwa kekerasan tak membuahkan kebaikan.
Aku seorang mahasiswa. Dengan gagah mengusung ideologi untuk bangsa. Ya!!! Untuk bangsa. Tak untuk yang lain. Aku yakin, bahkan sangat yakin dalam lubuk terdalam hati kita, bangsa ini dan masyarakatnya .Bangsa ini dan harga dirinya adalah yang utama dan terutama.
Aku seorang mahasiswa. Dalam pandangan masyarakat aku adalah sang pembawa aspirasi, aku tahu itu. Tak jarang aku diperlakukan istimewa, saat aku mengatakan pada mereka aku mahasiswa. Ya!!! Aku mahasiswa. Begitu agungnya posisi ku dimasyarakat. Sadarkah engkau akan hal ini kawan aku yakin kau sadar.
Aku seorang mahasiswa. Entahlah, ada pergolakan batin yang terjadi padaku, apa yang harus kulakukan dalam situasi genting ini, BBM naik, bagaimana nasib rakyat. Aku mahasiswa, aku merasa bertanggung jawab akan hal ini, dan aku harus melakukan sesuatu. BERBUATLAH!!! Pekik teman-temanku, para mahasiswa.
Aku seorang mahasiswa . hari ini aku berdiri didepan jalanan, mengibarkan sang merah putih, menutup jalanan agar tak bias dilalui orang. Kenapa? Aku akan berorasi. Demi mereka juga. Demi bangsaku, demi masyarakat luas.
Aku mahasiswa . tak cukup rasanya sebatas mengibarkan sang merah putih diujung sana temanku telah siap dengan ban bekas, dan disudut lain teman ku yang lain pun telah siap dengan api yang berkobar. Ya!!! Aku mahasiswa. Tak afdhal rasanya bila aku tak membakar ban bekas ini. Aku bakar saja, biar ramai. Aku bakar ban bekas ini disamping sang merah putih yang berkibar rendah. Hati kecilku menjerit tak takutkah engkau jika sang merah putih itu terbakar. Angin begitu kencang berhembus. Apa kau tak takut? Suara hatiku yang lain membenarkan apa yang kulakukan. Tenanglah wahai mahasiswa sang merah putih bangga atas apa yang kau lakukan!!!
TIDAK KAWAN!!!
Sang merah putihmu, kebanggaanmu, MENANGIS menyaksikan ini. Namun dia tak menjerit. Dia hanya merasakan panas. Namun masih bias ditahannya. Karena satu keyakinan kawan. Kita mahasiswa. Sosok akademisi yang keluar dari gedung megah bernama perguruan tinggi membawa bekal ilmu dan akal.
Aku mahasiswa. Ada mobil plat merah yang melintas, teman-temanku sesama mahasiswa berteriak. BAKAR!!! BAKAR!!! Aku terbakar, semangatku membuncah, aku lari menghampiri mobil itu, memaksa penumpangnya untuk turun dan API SEMANGAT itu semakin membakarku. Aku menghancurkan mobil itu. Tak cukup aku membantingnya hingga terguling, ada luapan kepuasan terasa, dan sama halnya sepertiku temanku begitu semangat mengangkat kedua tangannya dan meneriakkan YEAH!!! Seakan dia telah memenangkan sesuatu yang amat berharga. Tunggu dulu, suara itu kembali terngiang, mengajukan pertanyaan. Kenapa kau membakar mobil itu? Karena itu mobil yang dikendarai sang penguasa yang tetap duduk kokoh disinggasananya, aku rasa dengan membakar mobil ini, dia akan sadar dan akan serta merta keluar mengabulkan permohonan kami karena takut. Itukan mobilku, mobilmu, mobil rakyat, aku kembali dibantah. Itu mobil yang dibeli dari hasil uang kita, uang rakyat. Dengan membakarnya kau telah membakar salah satu asset Negara kita. Sadarkah kau kawan? Kau berarti telah membumi hanguskan uang rakyat. Kawan Ingat kau berjuang hari ini untuk rakyat.
Aku seorang mahasiswa! Kulihat dari kejauhan aparat datang akan menyerbu kami, kulihat seorang temanku dengan sikap mengejek menunjukkan bokongnya pada sang aparat. Entah apa maksudnya. Tapi yang kutahu ini pastilah dirasakan sebagai penghinaan,.
Tapi tunggu, apa aku tak salah lihat? Temanku yang juga seorang mahasiswa melakukan hal seperti itu?
Disudut jalan itu. Ada suara jerit panjang terdengar, hysteria tangis membuncah. Ada apa? Kulihat sang merah putihku, kebanggaanku, tak kuasa lagi menahan semuanya, dia menjerit, Kuat , HENTIKAN KEGILAAN INI.
Aku seorang rakyat. Aku bangga pada mahasiswa, aku bangga jika melihat anakku masuk diperguruan tinggi dan menyandang gelar mahasiswa. Tapi apa yang terjadi sekarang? Aku tak merasa perlu memasukkan anakku diperguruan tinggi, bukan ini yang kuharap, kulihat dari televisi dan beberapa kali kusaksikan dengan mata kepalaku sendiri, betapa brutalnya aksi mereka, layaknya orang yang tak berpendidikan bahkan parahnya mereka pun dengan mudah dapat menyandang gelar tambahan manusiia tak beradab. Liar!!! Itu yang kutangkap. Apa ini yang mereka dapatkan di bangunan megah itu? Apa kekerasan adalah hasil belajar mereka bertahun-tahun? Aku benar-benar tak habis pikir. Tak dapatkah ilmu yang mereka dapatkan dibangku kuliah mereka gunakan untuk menyelesaikan masalah dengan bukan hanya menuntut tapi memberi solusi pemecahan terbaik ? tentunya dengan ilmu.
Aku seorang mahasiswa. Aku malu menunjukkan wajahku padamu rakyat. Kini aku mungkin tak lagi jadi kebanggaanmu. Kini aku mungkin tak pantas lagi kau harapkan.
TIDAK!!! Wahai mahasiswa!!! Wahai anak-anak bangsa!!! Engkaulah tumpuan harapan kami!!!
Kau masih memilki waktu untuk merubah ini semua. Kami yakin akan kemampuanmu mahasiswa!!! Kaulah generasi muda bangsa ini yang akan meneruskan cita-cita luhur nenek moyang kita.
KAMI YAKIN KAU MAMPU MENUNJUKKAN YANG TERBAIK
KAMI MENUNGGUMU MAHASISWA.
YA!!!! Akupun yakin
Karena KITA ADALAH MAHASISWA (fira_alamri)
→ 3 CommentsTags: BPN ISMKI
Merupakan Salah satu kutipan pembicaraan yang terjadi dalam acara Bedah Buku Nasional dan Peluncuran Program Buku Teks UNS 2008, yang bertempat di Aula Fakultas Kedokteran UNS, pada hari senin 24 Maret 2008.
Bedah Buku Nasional kali ini ber judul ‘Saatnya Dunia Berubah : Tangan Tuhan di Balik Virus Flu Burung’, merupakan hasil karya dari
Sebagai pembicara dalam acara tersebut antara lain Ibu Menteri Kesehatan RI, DR. dr. Siti Fadilah Supari, Sp.JP(K), sebagai penulis, Prof. Dr. Adi Sulistyono, SH, MH, merupakan pakar hukum UNS, serta Prof. Dr. dr. Guntur Hermawan, Sp.PD.
Dalam kesibukannya sebagai menteri, ibu menkes (red) patut diberi gelar kehormatan dari bangsa
Disela-sela acara tersebut sempat terjadi gurauan antara ibu menkes dengan Prof. Gun (red), yang mana ternyata mereka merupakan teman satu SMA, yaitu alumni dari SMAN 3 Solo. Mereka sempat menceritakan kenangan mereka di waktu SMA yang mebuat peserta bedah buku tertawa.
Dalam acara tersebut ibu menkes menceritakan bagaimana kegiatan beliau sebagai menkes RI, serta beberapa kebijakanya mengenai perbaikan kesehatan masyarakat
Melalui bukunya, beliau berhasil menguak konspirasi AS dan WHO dalam mengembangkan senjata biologi dari virus flu burung, avian influenza (H5N1). Setelah virus itu menyebar dan menghantui dunia, perusahaan-perusahaan dari negara maju memproduksi vaksin lalu di jual ke pasaran dengan harga mahal di negara berkembang, termasuk Indoesia.
Perlawanan beliau dimulai sejak korban tewas flu burung mulai terjadi di
Ibu menkes merasa ada suatu yang aneh, ia teringat mengenai korban flu burung di
Mereka mengambilnya dari
Uniknya data itu disimpan di Los Alamos National Laboratory di New mexici, AS. Disini, dari 15 group peneliti, hanya empat orang dari WHO, selebihnya tak diketahui.
Tak berhenti disitu, beliau terus mengejar WHO CC agar mengembalikan 58 vrus asal
→ No CommentsTags: LPM FK Indonesia
:razz: Salam Pers Mahasiswa!…..
Sahabat, dalam sekejap kita bisa mengatakan begitu pentingnya dunia jurnalistik nagi seorang mahasiswa. Terlebih lagi bagi mahasiswa kedokteran. Jurnalistik adalah salah satu sumber informasi dan referensi yang sangat dibutuhkan dalam menimba ilmu. Dari situ kita bisa dapat apa yang kita cari. Misalnya saja informasi terbaru tentang Kebangkitan Nasional. walaupun di luar tataran akademik mahasiswa kedokteran, tapi itu adalah pergerakan mahasiswa kedokteran yang seharusnya menjadi salah satu inforasi bagi kita tentang bagaimana sejarahnya bisa terjado saat ini Harkitnas, siapa yang mendalanginya. itu adalah informasi yang setidaknya memberikan sedikit wawasan bagi kita untuk mengetahui tentang suatu pergerakan mahasiswa yang harusnya menjadi cambuk dan pendulang semangat untuk mendorong kita lebih maju.
Tapi sungguh disayangkan, saat ini, pergerakan itu tak diikuti. Mungkin jangankan berpikir untuk mengukir suatu sejarah seperti yang dibuat oleh dokter-dokter Indonesia seabad yang lalu pada tahun 1908, tapi untuk sekedar menulis dan memberikan informasi kepada sesama teman sejawat (mahasiswa kedokteran) saja sangat kurang minatnya. Wah, pertanyaannya,”Kemanakah mereka?.”
→ 1 CommentTags: BPN ISMKI
(DEKLARASI MAHASISWA KEDOKTERAN INDONESIA)
Kami, mahasiswa kedokteran Indonesia,
intelektual muda bangsa yang cinta tanah air dan persatuan dengan berlandaskan iman dan takwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berjanji:
1. Menjunjung tinggi budi pekerti luhur dan martabat profesi kedokteran
2. Mengoptimalkan segala potensi dan sumber daya yang kami mliki, demi kesehatan bangsa
3. Menjadi teladan dan garda terdepan bagi pembangunan Indonesia
Makassar, 20 Mei 2008
Atas nama mahasiswa kedokteran Indonesia
→ No CommentsTags: Uncategorized
Aslm, BPNers. Kapan jaketnya jadi nih? :smile:
Lagi coba sedikit nulis nih, tentang produk LPM kita.
Saya yakin pertemuan Munas ke-3 kemarin membawa semangat-semangat baru dalam diri para pesertanya untuk lebih memaksimalkan diri lagi dalam berkarya, baik di LPM masing2 maupun BPN. Setidaknya, klo kemarin ada tukar menukar majalah ato produk masing2, kita bisa belajar sejauh mana sih sebenarnya “kemampuan” jurnalis2 FK to act as real journalists.
Gak bisa dipungkiri, saya yang gak ikut munas, tapi tau produk dari beberapa LPM FK, bisa menyimpulkan bahwa kita memang perlu banyak belajar! Kebanyakan emang produk kita, ng-internal banget. Ulasan “dalam negerinya” lebih banyak dari “luar negeri”. Namun hal ini tidak bisa disalahkan, karena modal utama supaya dibaca khalayak ramai, sebuah produk harus memiliki magnitude, yaitu kedekatan dengan pembacanya. Tapi yang jadi pertanyaan, bisakah kita lebih berkembang jika hanya mengandalkan ulasan dalam negeri saja? Tidakkah kita ingin Go Public? Tidakkah kita ingin menyapa masyarakat luas? Tidakkah kita ingin independen dalam arti sebenarnya??
BPN ISMKI merupakan sebuah solusi tersendiri dalam menjawab pertanyaan tersebut. Jika kita mampu menjadikan institusi ini sebagaimana mestinya, maka mendapatkan keuntungan lebih dalam peliputan suatu masalah, dan itu akan menjadi kelebihan kita dibanding media lain. Informasi akan lebih bervariasi, karena datangnya dari segala penjuru tanah air. Wawasan pemabaca akan lebih luas, dan mereka pun akan berterimakasih. Namun sudahkah kita manfaatkan BPN ini dengan baik?
Sebuah pertanyaan,,
→ 1 CommentTags: Dunia Jurnalistik
Young voices in research for healthThe Global Forum for Health Research and The Lancet are holding their third joint essay competition for the under-30s on the theme:
Climate change and health: research challenges for the health of vulnerable populations
Rules and guidelines
Deadlines
Prizes
Staff members of the Global Forum or of the Lancet or their immediate families are ineligible to enter the competition, as are authors of shortlisted essays published in 2006 and 2007.
For any questions, please contact susan.jupp@globalforumhealth.org or f.mclellan@elsevier.com
Updated: 03 March 08
For more information:
http://www.globalforumhealth.org
→ No CommentsTags: Dunia Jurnalistik
→ 2 CommentsTags: BPN ISMKI